Ada sepasang suami istri muda dari keluarga
mapan yang tinggal dikota Solo. Sang suami bernama Rio, berusia 26
tahun, seorang insiyur dan bekerja pada sebuah perusahaan jasa
konstruksi. Cukup ganteng dan pengertian. Istrinya bernama Ratna
Widyaningrum, usia 23 tahun juga seorang sarjana ekonomi , kerja di
sebuah perusahaan jasa keuangan. Tingginya 163 cm berat 49 kg, kulit
putih bersih dan ukuran bra34b, selalu berpakaian modis kekantor. Mereka
belum memiliki anak karena baru menikah 1tahun ini.
Di sela-sela
kesibukan bekerja mereka untuk menghilangkan kejenuhan, mereka biasa
menghabiskan akhir pekan dengan makan2 di sebuah resto yang terkenal.
Kadang juga berlibur dan menginap menyewa villa di Tawangmangu. Itu
dilakukan pasangan ini untuk lebih mendekatkan mereka yang sibuk setiap
hari dan sekadar refresing bagi mereka.
Saat itu mereka baru saja
pulang makan malam, mencoba masakan sebuah resto yang di rekomendasikan
oleh temannya Rio. Memang masakannya sangat khas dengan lauk pauk yang
di sajikan dalam suasana pedesaan. Sabgat natural sekali. Mereka pun
makan sangat lahap. Suasananya sangat romantis sekali bagi Rio dan
Ratna. Tak terasa kantuk datang menjemput.
“Ayoo mas……..kita pulang, udah ngantuk nih………..”ujar Ratna menguap.
“Iya nih, beginilah klo makan enak sekali…….ngantukkk……..”tambah Rio seraya bangkit.
“Ayo……….”ajak Rio mengulurkan tangannya, mengajak sang istri untuk bangkit.
Ratna
menggamit tangan suaminya sebagai pegangan, bangkit dalam tarikan
lengan suaminya. Ups..! Hampir saja ia terjatuh seandainya Rio tak
langsung menangkap pinggang sang istri. Tergelak mereka melangkah
berbarengan menuju kasir.
Setelah membayar, mereka melangkah
berpelukan. Rio menggamit pinggang sang istri diiringi tatapan orang
dekira mereka. Betapa tidak sang lelaki ganteng beriringan dengan wanita
cantik langsing berkulit bersih. Melangkah menuju mobil mereka yang di
parker di pojokan. Rio membukan pintu untuk sang istri, dan
menutupkannya setelah Ratna duduk di dalamnya. Melangkah mengitari mobil
menuju pintu yang satunya.
Setelah mundur dan berputar mobil
tersebut beranjak meninggalkan resto tersebut diiringi lambaian petugas
parkir yang memandunya. Meluncur di jalanan kota Solo dalam kecepatan
sedang. Tiba-tiba….
Ban mobil berdecit setelah terjadi benturan
keras. Rio masih sempat menginjak rem. Dan mobil yang mereka kendarai
berhenti dengan seketika. Tergopoh-gopoh pasangan muda itu keluar dari
mobilnya, Kaget bercampur aduk dengan miris melihat sebuah sepeda motor
telah berada di kolong mobil mereka.
“Adduhh…………………………..!”terdengar keluhan lirih dari seseorang.
Bergegas
mereka berdua menuju arah suara. Terliaht seorang lelaki tengah
terduduk di pinggir jalan sambil memegang lututnya, memandang dengan
marah kearah mereka.
“Ma..maaf…pak, saya tidak melihat bapak tadi……, ujar Rio.
“Bapak apanya yang luka…..?”timpal Ratna.
“Ga usah saya bisa berdiri sendiri…………………..!seru orang tersebut dengan gusar.
Terlihatt
orang tersebut berseragam aparat. Polisi tepatnya. Dia bangkit dan
melangkah ke hadapan Rio. Memaki-maki Rio dengan kata – kata yang kasar.
Rio tidak melayaninya setelah tau berhadapan dengan siapa. Ia lebih
memilih diam dan rela di persalahkan. Orang yang belakangan di
ketahuinya bernama Sutiran dengan pangkat Briptu memintanya semua urusan
di selesaikan malam itu juga. Tetapi mengingat malam telah larut Ria
meminta diselesaikan besok hari saja dan dengan terpaksa menyerahkan
surat-surat kendarannya sebagai jaminan.
“Ok…besok saya tunggu anda di rumah, jangan sampai terlambat…..”ucap sang aparat tegas.
“Baik..,baik pak besok saya akan ke rumah kita akan tanggung kerusakan sepeda motor bapak, bapak jangan kawatir..”ujar Rio.
“ Ya sudah…., jam 10 pagi ya jangan lupa……”ulang Sutiran kembali mengingatkan.
*********
Di
temani Ratna sang istri. Mengenakan blose berleher rendah menonjolkan
kemulusan kulitnya di padankan dengan jeans ¾ menambah anggun
penampilannya. Berkali kali Sutiran melirik ke arah Ratna yang tersenyum
manis, mengagumi penampilan wanita cantik yang datang ke rumah
kontrakannya di pinggir kota Tepat seperti janjinya, Rio telah berada di
rumah Briptu Sutiran Lebih jelas sekarang usianya berkisar 50-tahunan.
Berbadan tegap, berkulit gelap dengan penampilan yang garang.
‘Sebentar lagi ia akan pensiun’ batin Rio.
Setelah
berbincang-bincang dan saling berargumentasi akhirnya di sepakatiu
bahwa Rio akan mengganti sepeda motor sang aparat dengan jenis dan tahun
yang sama. Setelah memberikan cek senilai yang disepakati pasangan muda
tersebut itupun pamit di antar Briptu Sutiran menuju mobil mereka yang
di parkir d ujung jalan.
“Kalau ada masalah jangan segan-segan
menghubungi saya pak…….”ujar Briptu Sutiran melambai saat mobil yang di
kendarai pasangan muda itu beranjak pergi.
Pasangan muda itu tak
mengerti, bahwa sebenarnya keramahan Briptu tersebut hanya basa basi.
Mereka tak mengetahui bahwa Briptu Sutiran mempunyai latar belakang yang
tidak bagus. Baik sebagai polisi ataupun anggota masyarakat. Ia dikenal
sebagai polisi yang sering turun pangkat karena indisipliner dan
membuat malu kesatuannya. Seperti mabuk, judi dan juga suka merusak
rumah tangga orang lain.Maka diusianya yang hampir pensiun keluarganya
hancur akibat ulahnya. Dan iapun duda cerai…
Dan kehidupan pasangan muda itupun mengalir seperti biasanya hingga…
Suatu
ketika sepulangnya dari kantor setelah mengalami lembur yang
melelahkan, Ratna melangkah menuju parkiran mobilnya, tergesa gesa ia
karena suasana telah sepi dan Satpampun telah berada di balik mejanya.
‘Pasti mereka tidur’ pikir Ratna kesal.
Sambil
berjalan ia mencari-cari kunci mobil yang berada dalam tasnya. Ia
berjalan sambil menunduk, matanya mancari-cari kunci yang tiba-tiba saja
menjadi sulit di ketemukan. Begitu ketemu ia telah berada di samping
pintu mobilnya. Dengan tergesa-gesa ia masukkan kunci tersebut ke
lubangnya….
Tiba-tiba sebuah tangan telah menutup mulutnya diiringi bentakan.
“Serahkan benda berharga ibu kalu mau selamat…….!”Ancam pelaku yang membungkam mulutnya.
Ratna
kaget dan ketakutan, tetapi syukurlah akal sehatnya masih berjalan
normal. Demi keselamatan dirinya dengan cepat ia meloloskan perhisannya,
jam tangannya dan langsung menyerahkan ke tangan pelaku tersebut.
“Hapenya
juga…………..!” ucap si pelaku yang menggunakan penutup muka tersebut. Dan
dengan berat hati Hp tersebut pun pindah tangan. Dan dengan cepat
mereka kabur di telan kegelapan malam. Tinggallah Ratna terduduk diatas
aspal sesengukkan. Setelah merasa tenang ia pun membuka pintu mobilnya,
menstarter dan beranjak pergi. Di dalam mobil Ratna bersyukur dirinya
selamat. Mobilpun bergerak da;am kecepatan sedang. Sesaat di sebelah
kiri diliriknya terbaca tulisan yang menyatakan tempat tersebut adalah
sebuah kantor polisi. Reflek ia mengarahkan mobilnya ke bangunan
tersebut. Dan dengan tergesa-gesa ia melangkah masuk.
Terlihat 2 orang petugas jaga sedang menonton TV,…
“Malam pak,……”sapa Ratna
“Selamat malam bu….., ada yang bisa kami bantu…..?”sahut mereka ramah.
“Begini
pak…………”ucap Ratna kembali. Menerangkan bahwa ia telah mengalami
penodongan di parkiran kantornya. Di ceritakannya semua
sedetil-detilnya. Baik bagaimana kejadiannya dan ciri-ciri penodongnya
dan kehilangan apa saja.
“Eh…bu Ratna ada apa
kemari…..?”terdengar suara berat yang pernah dikenalnya. Ratna
memalingkan mukanya ke arah datangnya suara. Terkejut bercampur girang
ia melihat siapa yang menghampirinya. Briptu Sutiran melangkah mendekati
mereka. Dia menanyakan apa yang telah terjadi dan kedua orang petugas
yang melayani Ratna menceritakan laporan wanita muda tersebut.
“Begini
saja bu…, ini laporan telah kami buat sesuai dengan penuturan ibu,
sekarang silakan di tanda tangani dan nanti akan kami kabari begitu ada
perkembangan…”ujar Briptu Sutiran.
“Sekarang lebih baik ibu pulang,
kasihan suami ibu mungkin telah gelisah menunggu kepulangan ibu” tambah
Briptu Sutiran simpatik.
“Baik pak,tapi tolong ya pak, Hape itu sangat saya butuhkan….”tutur Ratna memelas.
“Akan kami usahakan secepatnya bu………………………..”ucap Briptu Sutiran.
Dan
mobil Ratna punmeluncur kembali di jalanan kota Solo. Tak lama kemudian
ia pun sampai di rumah. Rio langsung menghampirinya dengan wajah kesal.
Telah berkali-kali ia menghubungi Hp Ratna tak pernah diangkat. Begitu
Ratna menceritakan kejadiannya, wajah Rio berubah kaget, Dipeluknya
istrinya, dalam penyesalan tak dapat mendampingi sang istri pada situasi
yangberbahaya itu. Tak lupa Ratna juga menceritakan bahwa Briptu
Sutiran akan membantunya. Rio pun akhirnya bersimpati pada polisi
tersebut.
*****************
Seminggu kemudian….
Dering telepon kantornya mengejutkan Ratna yang tengah terpuruk dalam angka-angka.
“Ya….”jawab Ratna pendek.
“Ada Briptu Sutiran dari kepolisaian hendak bicara dengan ibu…..”terang suara renyah operator
Ratna
langsung teringat kejadian seminggu yang lalu, teringat pada kejadian
yang hamper saja membahayakan dirinya. Teringat pada laporan yang telah
dibuatnya di kepolisian.
“Ya sambungkan……..”ucapnya cepat.
“Bu saya Briptu Sutiran dari kepolisian, hendak menyampaikan kabar….”terdengar suara ramah polisi yang sangat di kenalnya itu.
“Bagaimana pak Sutiran………?”Tanya Ratna tak sabar.
“Begini
bu, penodongnya telah tertangkap, tetapi beberapa barang ibu tak dapat
kami ketemukan, silakan ibu mampir ke kantor siang ini, saya
tunggu…”tutur polisi itu dengan tutur teratur.
“Baik pak, jam 12 siang ini saya ke datang ke kantor…..” ucap Ratna terburu-buru.
“Terima kasih sebelumnya pak……….”tambah Ratna tak lupa.
Pas
jam 12 saiang itu Ratna telah berada di kantor polisi sebagaimana
disebutkan oleh Briptu Sutiran. Duduk menghadap meja Briptu Sutiran.
“Selamat siang bu Ratna……..”sapa sosok yang keluar dari ruangan sebelahnya memegang sebuah bungkusan.
“Selamat
siang pak Sutiran….”sahut Ratna tersenyum. Menmpakkan barisan teratur
gigi putihnya. Memang siang itu Ratna mengenakan blouse ketat,
menonjolkan kewanitaanya denga bahann yang tipis menerawangkan bra krem
yang dikenakannya, di padankan dengan rok selutut dengan belahan yang
cukup tinggi, menonjolkan keputihan batang pahanya. Tak luput paha
tersebut menjadi persinggahan mata nakal sang petugas.
“Betul ini
barang milik ibu………?”Tanya Briptu Sutiran menyerahkan bungkusan
tersebut ke hadapan Ratna. Denagan cepat Ratna membuka bungkusan
tersebut, matanya terbelalak dengan senyum girang.
“Betul pak..! Ini betul Hp saya………………”ucapnya kegirangan.
“Terimakasih pak……, tapi……………….”ucapnya terputus.
“Perhiasan
ibu tak dapat kami ketemukan, menurut pelaku penodongan tersebut
perhisaan itu telah dijualnya pada seseorang…, mohon maaf bu hanya ini
yang bisa kami bantu…” tuturnya menerangkan.
“Ga apa-apa pak…., biarkan saja, hp ini yang terpenting….”sahut Ratna menarik napas lega.
“Sekali lagi terimakasih pak Sutiran…….”ujarnya pelan, mengemasi hp tersebut.
“Oh ya…., ini sekedar pengganti bensin……..”ujar Ratna mengansurkan lipatan 2 lembar uang ratusan ribu.
“Jangan, jangan bu………….ini sudah menjadi kewajiban kami..”Ucap Briptu Sutiran mendorongkan tangan Ratna.
“Bagaimana
ini….saya bingung membalas pertolongan bapak….”sambil berkata Ratna
memasukkan kembali uang tersebut kedalam tas tangannya.
“Ga usah bu….., sudah menjadi pekerjaan kami hal begini….”terang Briptu Sutiran tegas.
“Atau
beginilah pak, sekedar tanda terimakasih saya, jangan bapak menolak
permintaan saya kali ini. Saya yakin bapak belum makan siang begitupun
saya, maka saya mengajak bapak untuk menemani saya makan siang..,
bagaimana setuju…?ucap Ratna tak kehilangan akal.
“Kalau itu boleh bu…….”sahut Briptu Sutiran tersenyum.
“Kita berangkat sekarang……..?Tanya Ratna.
“Begini
saja, ibu keluar terlebih dulu, tuinggu saya di parkiran, saya kan
selesaikan dulu urusan administrative barang-barang ibu….”tuturnya
kembali.
“Ok, saya tunggu bapak di mobil…….”ujar Ratna melangkah ke
luar dari ruangan tersebut diiring tatapan mata beberapa petugas
mengiringi langkahnya yang teratur,
Tak makan waktu lama, Briptu
Sutiran dan Ratna telah berada di sebuah fastfood. Bersama mereka makan
siang. Percakapan mereka mengalir mencairkan kekakuan yang terikat oleh
sikap kerja mereka. Beberapa kali Ratna tertawa oleh lelucon yang
disampaikan oleh sang petugas itu. Tak terasa waktu harus memisahkan
mereka kembali pada kesibukan rutinitas biasanya. Ratna pun tak
keberatan saat Sutiran meminta nomer hpnya dan berjanji akan kembali
menelepon. saat ia mengantarkan Briptu Sutiran kembali ke kantornya..
Simpatinya telah tumbuh, merasakan sosok Sutiran bagai seorang kakak
yang tak pernah dimilikinya karena ia adalah anak tunggal.
Mulai
saat itu rtana sering di telepon olehSutiran. Baik saat di kantor
ataupun ketiika di rumah saat suaminya tak ada. Pembicaraan mereka makin
hangat. Tak jarang Ratna menceritakan keadaannya dan tuntutan keluarga
suaminya yang menginginkan ia segera hamil. Dan Sutiran pun memberikan
beberapa petuah-petuah yang sangat masuk ke dalam hati Ratna.
Ratna
seolah – olah menemukan siraman kesejukan dari seorang kakak. Tak
segan- segan ia menceritakan mertuanya yang sungguh menuntut kehadiaran
seorang anak dari rahimnya. Tak ketinggalan pemeriksaan oleh dokter yang
menyatakan mereka berdua tidak mempunyai masalah dalam reproduksi
mereka. Sutiran hanya menyarankan bersabar.
Suatu siang Ratna menelepon..
“Mas
Sutiran, sore ini aku mau ke rumah…,ada yang akan aku
ceritakan..”terdengar suara kesal Ratna. Panggilan ‘mas’ telah terbiasa
di ucapkan Ratna terhadap ‘kakak’ nya itu.
“Ya Sudah…..nanti kutunggu………….”sahut Sutiran bernada lembut.
Tak
sabar Ratna melewatkan jam demi jam berlalu. Ingin ia cepat-cepat
melepaskan kesal hatinya, menceritakan ganjalan hatinya saat itu. Dan
begitu jam menunjukkan pukul 4 sore, setengah berlari ia menuju
parkiran, menstarter mobilnya dan meluncur cepat di kemacetan jalanan
kota Solo sore itu.
Sejam kemudian mobilnya telah sampai pada
ujung jalan di mana titik terakhir mobil bisa masuk. Melangkah dengan
tergesa menuju rumah kontakan Sutiran. Sutiran telah berdiri di depan
pintu hanya mengenakan singlet dan sehelai sarung, pakaian santai
kegemarannya.
“Ada apa lagi………?”Tanya Sutiran memandang keheranan
pada tubuh sintal yang melangkah masuk dan menghempaskan diri di sofa
di tengah ruangan tersebut.
“IItu..Mas Rio, kemarin ia juga
menyalahkan aku kenapa ga hamil-hamil….!ucapnya bersungut-sungut.
Diterangkannya Rio suaminya yang tengah keluar kota berbicara di telepon
mengenai ketidak hamilannya.
“Mungkin ia lagi stress oleh beban pekerjaan kantor…”Ujar Sutiran menenangkan.
“tapi
tak biasanya ia begitu, selama ini dia tak pernah menyalahkan aku….”
Ujar Ratna tetap ngotot tetapi dengan suara yang makin me lembut.
“Sudah kamu cuci muka dulu sana, biar segar bariu teruskan……”perintah Sutiran
Dengan
bersungut-sungut Ratna menurut dan melangkah menuju kamar mandi yang
ditunjukkan Sutiran. Setiap gerakan langkah Ratna tak luput dari tatapan
sudut mata Sutiran. Kini ia sadar wanita muda itu memiliki tubuh yang
bagus dengan kulit yang bersih, sangat proporsional sekali. Gairah
kelelakiannya yang bangkit. Pikiran kotornya mulai bekerja.
Ratna
keluar dari kamar mandi sambil tersenyum. Kedua lengannya menyisir
rambutnya yang lebat, memperlihatkan leher putihnya berkilau bak pualam
di timpa cahaya senja. Kembali duduk, kini mereka duduk bersisian.
Kembali mereka bercakap-cakap dalam suasana hangat. Ratna telah
melupakan persoalannya denga suaminya Rio. Tertawa-tawa ia mendengar
gurauan Sutiran.
“Tak usahlah di dengar perkataan Rio itu…, anggap saja tak pernah ada…”ujar Sutiran perlahan.
“Sayangkan, cantik-cantik begini cepat menjadi keriput oleh pikiran mengenai hal-hal itu….”tambahnya.
“Kamu
masih muda, kalau Rio sudah tak suka lagi masih banyak lelaki ganteng
bisa kamu dapatkan….”suara itu terdengar lembut merasuk hati Ratna.
Usapan
tangan Sutiran pada rambutnya ikut menambah pengaruh atas perkataannya.
Tangan Sutiran turun, menggapai dagu Ratna. Mengangkatnya sehingga
mereka bertatapan
“Bersenang-senang sedikit kan tak salah…………..”senyum Sutiran.
Ratna
terpukau oleh kata-kata Sutiran barusan. Meresapi dan menyelami
maknanya. Tiba-tiba tergagap ia saat bibirnya telah di kecup dan di cium
oleh Sutiran. Pikirannya kembali tak memahami artinya. Tetapi ia dapat
menerka ujungnya.
“Kok mas jadi begini………….?”tanyanya heran bercampur bingung.
“Tak usah ditanyakan,………..”tukas Sutiran.
“Bukan begini,…..inii ga boleh mas…..”sahut Ratna mendorong Sutiran yang terus maju.
“Mmhh………………………….”ucapannya terputus oleh lumatan bibir Sutiran yang merangsek terus maju.
Tindakan
Ratna mendorong tersebut bukannya menyebabkan Sutiran terdorong, malah
menbuat dirinya sendiri terdorong rebah di sofa. Tubuh Sutiran ikut
rebah menindih tubuh sintalnya.
Ratna mengerakkan kepalanya
kekiri dan ke kanan menghindari bibir Sutiran yang merangsek maju.
Kakinya menendang-nendang yang malah menyibakkan roknya tersingkap lebih
ke atas. Sutiran makin kerasukan. Ditariknya blouse Ratna dalam sebuah
sentakan, memutus seluruh kancingnya, memampangkan kemulusan kulit
tubuhnya di depan mata Sutiran. Dengan sebuah sentakan kembali kait
pengingat bra penutup payudaranya putus, menggetarkan bulatan padat
kembar itu ke udara.
“Ja….jangan …mas ouh…………..”pinta Ratna.
Ucapannya tenggelam dalam lumatan bibr Sutiran pada puncak Buah dadanya.
Dengan ahli di kulum dan di lumatnya. Ratna tak kuasa berteriak,
bibirnya kelu oleh rasa geli yang tidak biasanya. Lidah Sutiran bermain
pada puncak dadanya dengan tekun. Tangan kiri Sutiran turu dan menemukan
batang paha yang mulus, mengelus dan merabanya dengan perlahan dari
lutut menuju ke atas. Berhenti pada karet celana dalam satin yang di
kenakan Ratna. Menggenggam karet tersebut, menyentakkannya dengan kuat.
Putuslah sudah pelindumg terakhir yang dikenakabn Ratna. Tubuh bagian
atasnya telah telanjang, roknya teleh tersingkap ke pinggang sedangkan
celana dalamnya pun bernasib serupa meninggalkan pemiliknya dalam
ketelanjangan.
Kedua tangan Ratna yang tadi mencengkram bahu
Sutiran, kini telah menggerumasi rambut cepak Sutiran. Larut dalam
gelora birahi yang dengan sangat ahli dibangkitkan oleh lelaki berwajah
garang itu.
Tiba-tiba Sutiran menarik tubuh sintal
Ratna,membopongnya menuju kamar tidur dan langsung merebahkannya di
kasur. Dan dengan cepat wajahnya meluruk ke bawah, menuju pertemuan ke
dua paha yang mengatup erat. Menjilati kedua batang paha tersebut denga
lidahnya yang kasap. Mulai dari bagian luar ke bagaian dalam, menjalar
terus naik menemukan segitiga terbalut bulu halus yang menghitam.
Menjilat disana…!!!
Perlahan kedua paha tersebut membuka
menghindari kegelian perlakuan lidah Sutiran. Dan justru itulah yang di
kehendaki oleh Sutiran.
“Ahhhh……..mass………………”jerit Ratna saat
lidah kasap Sutiran menjelajahi miliknya paling pribadi. Mencucupi
kelembutan memerah muda yang terbit. Tubuh sintalnya melenting dalam
posisi terduduk mengangkang. Napasnya tersengal-sengal. Dengan mata
berlinang ia pasrah pada kehendak tubuhnya yang menyambut setiap gerakan
lidah Sutiran.
Kedua tangan Sutiran tak tinggal diam meremas
dan mengelus bongkahan padat dada Ratna.memilin putingnya dengan lembut.
Menyebabkan tubbuh mulus Ratna mengerinjal-gerinjal ke-sangat-gelian.
Pinggulnya bergerak demonstratif mengimbangi liiarnya lidah Sutiran.
Mengayun maju mundur pada.setiap gelitikan lidah Sutiran pada liang
kewanitaannya yang telah basah.
Sutiran bangkit. Melepas singlet
dan sarungnya, memprtontonkan tonjolan berototnya menjulang bak tugu.
Menarik pinggul Ratna mendekat kearahnya. Membuka kedua kaki tersebut
melebar. Menempatkan batang tegarnya di permukaan lepitan kewanitaan
Ratna.
“Ahhhh…………………………….”pekik Ratna saat ujung membola batang
Sutiran membelah lepitan kewanitaannya. Menguakkannya agar dapat masuk.
Memaksanya mengembang…..
Ratna tersengal-sengal merasakan ujung
membola tersebut menggerus permukaan lembut di dalam kewanitaannya.
Sutiran bergerak kembali. Mendorong dengan paksa…
Terasa olehnya
betapa kelembutan basah kewanitaan Ratna mencekal laju batang tegarnya.
Sambil memegang pinggul Ratna denga kedua tangannya, Sutiran bergerak
lebih kuat dari sebelumnya. Mendorongkan batang tegaknya lebih dalam.
Terasa berderik-derik lingkaran cincin di dalam kewanitaan Ratna
sepanjang perjalanan batang tegar tersebut. Terus maju perlahan tapi
pasti…
“Ahhhh…………………………..”pekir Ratna kembali dengan biji mata
yang kelihatan putihnya saja. Tubuhnya lemas dan ambruk dari posisi
duduknya, rebah terlentang di atas kasur.
‘Bukan main………hebat……….’batin Ratna merasakan momen yang baru saja di alaminya.
Sutiran
mulai bergerak. Dalam posisinya berdiri di atas lantai dan Ratna yang
rebah di kasur memberikan keleluasaan baginya untuk memompa. Tubuh
tegapnya bergerak ritmis. Konstan mengayun pinggulnya. Memenuhi kehendak
mendasar setiap manusia. Manggali se dalam-dalamnya sumur kenikmatan
fana.
Ratna hanya bisa tersengal-sengal. Berkali-kali tubuhnya
menggerinjal dengan kepala yang terlempar kekiri dan kekanan. Rambutnya
telah awut-awutan dengan tubuh yang di penuhi butir-butir keringat.
Seksi sekali pemandangan yang ada di hadapan Sutiran saat itu.Sungguh
luar biasa rasa nikmat yang menderanya kali ini. Menerbangkannya dengan
cepat menuju puncak.
“Ouh…….ohhh………………….”erang Ratna lirih. Kedua tangannya mencengkeram sprey ranjang, menariknya dengan gemas.
Sutiran
terus memeompa,makin lama makin cepat. Menghujamkan batang berototnya
semakin cepat. Di selingi kecipak kecipak seksi mengalun dari
perbenturan kulit mereka.
“Ahhhhh…..mfhh..,ouhhhhhh……….”pekik
Ratna terputus-putus. Puncak kenikmatan yang datang bergemuruh
menyeretnya dalam gulungan rasa tak terkira. Melambungkan emosinya ke
titik tertinggi yang pernah di raihnya. Tubuhnya mengejang,,bergetar dna
menggeliat liar diatas kasur. Otot melingkar di dalam liang
kewanitaannya berdenyut d-denyut, seolah-olah mengurut dan memeras urat
berotot milik Sutiran yang bergerak terus maju mundur bak paku bumi.
“Uhfh…………………………”Sutiran
melenguh merasakan pijatan otot melingkar dalam kewwanitaan Ratna
mencekal erat batang berototnya ketat sekali seolah olah belitan ular
pada mangsanya. Tapi ia terus bergerak…., menyempurnakan pencapaiannya.
Ratna
yang telah terbaring lemas kambali tergelitik dengan cepat gejolak
birahinya. Di gapainya tangan Sutiran dan kembali berada pada posisi
duduk. Memandang dengan takjub pada selangkangannya yang sedang ‘di bor’
oleh otot berurat milik Sutiran. Keluar masuk tak henti-henti dalam
gerak yang konstan. Pandangan Ratna sesekali beralih pada wajah Sutiran
yang sedang serius konsen menggerakkan pinggulnya sambil menggeretukkan
giginya, menahan agar ia tak terpancur lepas terlebih dahulu.
Tak
merasa cukup, Ratna menggapai pinggang Sutiran dan mencengkeramnya
kuat. Mulai dengan perlahan mengayun pinggulnya berlawanan arah dengan
Sutiran. Berusaha menggandakan rasa nikmat yang timbul. Kedua kakinya
melingkar di belakang Sutiran, saling berkait untuk mengunci. Napas
keduanya telah memburu hebat.Gerakan mereka seirama makin lama makin
cepat dan akhirnya…
“Ahhh……..Ahh……Ngghhhh………..”pekikan dan
rengekan tak putus-putus keluar dari bibirmungil Ratna. Tubuhnya
mengejang dengan mata mendelik. Puncak yang lebih dahsayat menggulung
emosinya bergemuruh bak datangnya gelombang air bah. Melontarkan
tubuhnya ke langit berwarna warni, melayang –layang dalam buaian
lembut.yang tak pernah di capainya sebelumnya.Tak kuasa menahankan rasa
yang demikian hebat, didigigitnya dada bidang Sutiran….!!!!
“Mmfh…………Rrghh…………………”geram
Sutiran menyentakkan tubuhnya. Membenamkan btang berototnya
sedalam-dalamnya pada liang kewanitaan Ratna, sambil mencengkearam kuat
pinggul berbentuk indah itu.. Tersentak-sentak tubuhnya saat materi
hangat dan kental miliknya menyembur secara sproradis, membasahi liang
sempit tersebut. Tubuhnya pun ambruk menimpa tubuh putih Ratna yang
telah basah di sana sini. Terdiam mereka dalam keheningan. Menikmati
rasa yang tersisa dan keletihan yang amat sangat.
Setelah
menyadari, Ratna sesengukan, dirnya telah ternoda. Pikirannya berkecamuk
bingung antara harga diri dan reaksi tubuhnya atas perlakuan Sutiran.
Sangat kontradiktif. Tapi apalah artinya nasi telah jadi bubur. Akhirnya
dengan tubuh lunglai ia mengemasi pakaiannya, melangkah pelan dalam
kegelapan malam.
Setibanya di rumah segera ia mandi dan membersihkan sisa-sisa persetubuhan liarnya dengan Sutiran. Langsung ia tertidur nyenyak.
Hari-hari
selanjutnya Ratna kembali bekerja seperti biasanya, hanya sikapnya
lebih banyak diam. Pikirannya melayang pada peristiwa beberapa hari
lalu. I a sungguh merasa harga dirinya terkoyak-koyak. Tetapi anehnya ia
sangat menikmati perlakuan Sutiran. Masih berbekas rasanya jamahan
lelaki itu pada dadanya, lidahnya yang liar bergerak dalam liang
kewanitaannya. Dan batang berototnya serasa masih berada dalam cekalan
penuh liang kewanitaannya. Tak disadarinya gairahnya kembali tergelitik.
“Halo, bisa bicara dengan Briptu Sutiran………” sura Ratna terdebgan bergeletar di telepon.
“Sebentar bu, dengan siapa ya………………..?” sahut penerima di sana.
“Dari ibu Ratna……………………………………”jawab Ratna cepat.
“Sebentar bu……………………………………..” terdengar seuara memanggil Sutiran di kejauhan.
“Halo………………………………………………”terdengar suara yang akrab di telinganya.
“Dengan Briptu Sutiran………………………….?”Tanya Ratna.
“Betul……………………………………………...” tukas sipenerima singkat.
“Mas, aku Ratna….masih ingat kan…………...?”ujar Ratna.
“Jelas dan takkan pernah lupa…………………”sahut nya tegas.
“Mas, nghhh……..aku ada perlu……………….”ujar Ratna terbata-bata.
“Hmmmm………………………………………...” gumam Sutiran.
“Aku ke rumah nanti sore………………………” cepat sekali perkataan tersebut keluar dari mulut mungil Ratna.
“Siap-siap ya……………………………………..”tambah Ratna seraya menutup pembicaraan tersebut.
Terdiam
dan bingung Sutiran memegang gagang telepon tersebut. Namun akhirnya ia
tersenyum simpul dan meletakkan gagang telepon tersebut.
‘Hmm……..pasti
Ratna menginginkan kejadian sore itu terulang kembali……’batinnya
girang. Melangkah sambil bersiul-siul ia kembali menuju mejanya. Dapat
ia bayangkan betapa tubuh telanjang Ratna menggeliat-geliat dalam
pelukannya.
Sejak saat itu Ratna jatuh pada keperkasaan Sutiran
dan merekapun sering melakukan persetubuhan di rumah Sutiran. Kadang
mereka mereka melakukan di Tawangmangu jika Rio sedang keluar kota.
Ratnapun akhirnya bertekuk lutut pada kehebatan Sutiran diatas ranjang
dan seolah ketagihan terus untuk melakukannya berulang kali. Sutiran
seperti mendapat durian runtuh, karena selain birahinya dapat
tersalurkan juga ia sering memanfaatkan Ratna secara finansial, tak
jarang ia meminta sejumlah uang untuk keperluannya. Sedang Rio suami
Ratna tidak mengetahui perselingkuhan itu .







Tidak ada komentar:
Posting Komentar